ads ads ads ads

Sabtu, 11 Agustus 2012

mangrove


1.1. Pengertian mangrove

Pada  awalnya,  pengertian  hutan  mangrove  dikenal  hanya  dikalangan  ilmuwan  saja, khususnya  yang  tertarik  pada  kawasan  pesisir,  namun  saat  ini  sudah  banyak  peneliti maupun  mahasiswa  yang  tertarik  pada  bidang  tersebut.  Allen  (1973)  mengetengahkan bahwa hutan  mangrove  dikenal sebagai  coastal woodland  atau  hutan  bakau  atau  rawa garaman  atau  “intertidal  zone”.  Menurut  MacNae  (1969),  kata  mangrove  merupakan perpaduan antara bahasa Portugis “mangue dan bahasa Inggris “grove.   Dalam bahasa Inggris,  kata  mangrove  dipergunakan  baik  untuk  komunitas  pohon-pohonan,  rumput- rumputan, maupun semak belukar yang tumbuh   di laut.  Kemudian kata mangrove dalam bahasa Portugis dipergunakan untuk individu jenis tumbuhan, dan mangal untuk komunitas hutan  yang  terdiri  atas  individu-individu  jenis  mangrove  tersebut.  Sedangkan  menurut Mastaller (1997), kata mangrove berasal dari bahasa Melayu kuno, yaitu “mangi-mangi yang  digunakan  untuk  mengenal  jenis  Avicennia  sp.          Istilah  mangi-mangi   ini  juga digunakan oleh masyarakat dari daerah Kawasan Timur Indonesia,  antara lain Maluku dan Irian, namun di daerah Maluku Utara, hutan mangrove dikenal dengan nama ”sogi-sogi”. Masyarakat  Sulawesi   pada  umumnya  menyebut  mangrove  dengan  nama  tongke”. Sedangkan  masyarakat  pesisir  di  Kawasan  Barat  Indonesia,  hutan  mangrove  dikenal dengan nama  “bakau”. Sehubungan dengan hal tersebut,  serta agar tidak menimbulkan kerancuan, maka sesuai dengan keputusan FAO tahun 1985 dan dari berbagai pertemuan ilmiah  maupun  konggres  telah  disepakati  bahwa  untuk  menghindari  salah  pengertian dengan  hutan  yang  terdiri  dari  jenis  bakau-bakauan,  maka  mangrove”  secara  resmi digunakan  sebagai  pengganti  istilah  “bakau,   sogi-sogi,  lalaro,  tongke  atau  mangi- mangi”.


Beberapa  pakar  mangrove,  telah  mendefinisikan  hutan  mangrove  secara  berbeda-beda, namun   demikian   memiliki   maksud   yang   sama.   Misalnya   Seanger   et   al.   (1983), mendefinisikan hutan mangrove sebagai formasi dari tumbuhan daerah litoral yang khas di kawasan  pesisir  tropik  dan  subtropik.  Snedaker  (1978)  memberikan  pengertian  bahwa hutan  mangrove  merupakan  suatu  kelompok  jenis  tumbuhan  berkayu  yang  tumbuh  di sepanjang garis pantai tropika dan subtropika yang selalu terlindung dari hempasan ombak, serta memiliki bentuk lahan pantai yang landai dengan tipe tanah anaerob. Hutan mangrove merupakan  sekumpulan  hutan  halofil  yang  umumnya   tumbuh   pada  daerah  intertidal


ikawasan tropik dan subtropik yang membentuk hamparan rawa yang selalu dipengaruhi oleh air  pasang-surut (Moore,  1977). Sedangkan   menurut Tomlinson (1986) mangrove adalah sebagai tumbuhan yang terdapat di daerah pasang-surut, maupun sebagai komunitas. Mangrove  juga   diartikan   sebagai  vegetasi  yang  dinamis  dan  secara  terus  menerus bertambah luas, serta mendorong terbentuknya tanah timbul melalui suksesi alami, sebagai akibat adanya sedimentasi (Kostermans, 1982; Bird & Barson, 1982).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar