ads ads ads ads

Selasa, 07 Agustus 2012

. Bulu babi (sea urchin) jenis Tripneustes gratilla L.


I.  PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki beragam sumberdaya hayati laut yang sangat potensial untuk dikembangkan.  Bulu babi (sea urchin) jenis  Tripneustes gratilla L. merupakan salah satu jenis biota laut yang memiliki nilai ekonomis penting terutama sebagai bahan pangan bergizi tinggi (Lawrence and Bazhin, 1998; Aslan, 2001).
Pemanfaatan bulu babi untuk dikonsumsi sebagai bahan makanan adalah dengan mengambil gonadnya (Gambar 1) selain sebagai hewan hiasan di akuarium air laut serta bahan pupuk organik (memanfaatkan cangkang dan durinya yang mengandung kalsium karbonat).





 




    Gambar 1. Gonad Bulu Babi (tanda panah)
Hasil survei yang telah dilakukan pada beberapa daerah menunjukkan bahwa bulu babi jenis T. gratilla hampir terdapat di seluruh perairan Indonesia (Arakaki and Kusen, 2000). Potensi bulu babi pada daerah-daerah ini umumnya belum dimanfaatkan secara maksimal, baik oleh pengusaha atau nelayan setempat.
Gonad bulu babi  merupakan  komoditas pangan yang dikenal secara luas dan merupakan makanan yang bernilai gizi tinggi. Lee and Haard (1982) melaporkan bahwa gonad bulu babi mempunyai sekitar 28 jenis asam amino yang sangat berguna untuk pertumbuhan dan kesehatan manusia. Selain itu gonad bulu babi kaya akan vitamin B kompleks,   vitamin A dan mineral (Kato and   Schoeroter, 1985). Dari 


penelitian yang dilakukan oleh Chasanah dan Andamari, (1998) diperoleh data bahwa gonad bulu babi memiliki kandungan asam lemak yang beragam (Tabel 1):

Tabel.1. Profil  persentase  asam  lemak  gonad  bulu  babi
Jenis asam lemak                       Tripneustes    gratilla           L. Salmacis sp.
C16: 0                                                   42,9                                   42,3
C18: 0                                                     3,6                                     4,7
C18: 2w6                                                2,7                                     2,3
C18: 3w6                                                3,1                                     1,4
C20: 2w6                                                5,4                                       -
C20: 2w3                                              21,0                                   10,0
C20: 5w3                                              13,4                                   11,5

Di sisi lain, gonad bulu babi berdasarkan hasil penelitian mengandung 13 jenis asam amino, 18 jenis asam animo esensial (lisin, metionin, treonin, valin, arginin, histidin, triptopan dan fenilalanin) dan 5 asam amino non esensial (serin, sistein, asam aspartat, asam glutamat dan glisin). Dari sekian kandungan asam amino tersebut ada 2 jenis yaitu arginin dan histidin yang cukup penting untuk pertumbuhan anak. Selain itu bulu babi juga mengandung asam lemak tak jenuh omega 3 yang berkasiat untuk menurunkan kandungan kolesterol manusia. Bulu babi juga kaya kandungan vitamin A, vitamin B kompleks dan mineral yang dapat memperlancar fungsi sistem saraf dan metabolisme tubuh manusia. Hasil analisis nilai gizi gonad bulu babi  per 100 g berat kering adalah: protein 39,18 g, lemak  8,7 g, karbohidrat 38,57 g, kadar abu 8,2 g, fosfor 596 mg, kalsium 776 mg, karoten total 57,6 mg, vitamin A 3,349 SI, vitamin B 0,08 mg dan kadar air 5,35 g (Saparinto, 2003).
Karena kandungan gizinya yang sangat tinggi tersebut maka di pasaran internasional, gonad bulu babi mempunyai nilai perdagangan yang sangat layak jual (marketable) khususnya bagi  masyarakat Jepang, Korea, Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Perancis dan China. Masyarakat Jepang merupakan masyarakat yang paling banyak memanfaatkan dan mengkonsumsi gonad bulu babi.  Gonad bulu babi biasanya dipasarkan di Jepang dalam bentuk beku, segar atau kering.  Pemasok gonad bulu babi terbesar ke Jepang adalah Amerika Serikat yang pada tahun 1989 memasok sebesar 446 ton senilai US$ 6,14 juta. Kemudian Meksiko, Chili dan Cina masing masing sebesar 83,8 ton senilai  US$ 1,154 juta; 82,67 ton senilai US$ 1,14 juta dan 50,63 ton senilai dengan US$0,7 juta.  Pantauan harga terakhir tentang komoditas ini di Jepang diperoleh nilai sebesar Rp. 1.100.000/kg (Aslan 2001).
Di Indonesia, bulu babi belum begitu dikenal oleh masyarakat luas.  Hanya sebagian kalangan masyarakat pesisir khususnya nelayan yang memanfaatkan organisme ini.  Hal ini disebabkan  pengetahuan dan informasi dalam mengenal dan mengetahui  kandungan gizi gonad bulu babi di kalangan masyarakat masih terbatas. 
Seiring dengan pertambahan populasi penduduk Indonesia dewasa ini, maka permintaan bahan makanan yang mengandung protein akan semakin meningkat pula.  Di sisi lain, maraknya penyakit busung lapar dan kurang gizi (malnutrition) serta serangan flu burung yang melanda masyarakat di Indonesia akhir-akhir ini, maka pemenuhan  sumber protein baru dari produk hewan laut merupakan salah satu solusi terbaik.  Hal ini tentu saja merupakan suatu peluang tepat sekaligus meringankan beban   pemerintah khususnya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dalam mencari sumber pangan alternatif yang berkualitas.

B.     Perumusan Masalah


Kegiatan penangkapan oleh pencari bulu babi di alam yang  semakin meningkat mengakibatkan turunnya populasi  organisme  ini di alam. Selain itu, penurunan kualitas lingkungan (kerusakan habitat karang akibat pengeboman yang semakin marak di Sulawesi Tenggara dan menipisnya areal padang lamun (seagrass beds) serta  pencemaran perairan turut mempengaruhi kelangsungan hidup hewan ini. Jika tidak diantisipasi secara dini, maka eksploitasi lebih (overfishing) dan kepunahan hewan ini akan semakin cepat.
Salah satu upaya  mengantisipasi berkurangnya stok bulu babi ekonomis penting ini melalui upaya pembudidayaan menggunakan metode karamba tancap. Penggunaan metode karamba tancap pada upaya pembudidayaan bulu babi ini adalah berdasarkan pada karakteristik hewan ini yang hidup menetap di dasar  (benthik) (Aslan, dkk.,2003).


Pembudidayaan bulu babi dengan karamba tancap selama ini belum pernah dilakukan. Selain itu, penggunaan pakan alami berupa lamun dari jenis Thalassia hemprichii sebagai sumber pertumbuhan bulu babi  selama pemeliharaan juga belum pernah dilakukan padahal lamun merupakan pakan utama T. gratilla (Aslan, dkk., 2003).  Penggunaan pakan alami berupa lamun merupakan salah satu upaya pemanfaatan sumberdaya lokal alami yang diharapkan mampu menyuplai kebutuhan nutrisi bulu babi ini selama dipelihara di dalam karamba.
Di sisi lain, dengan ditemukannya kegunaan lamun dengan dosis pakan yang terbaik   bagi   pertumbuhan   bulu   babi,   dapat   menjadi   rujukan   yang   mudah               diaplikasikan bagi para nelayan yang berminat membudidayakan hewan ini di masa  yang akan datang.
C. Tujuan Kegiatan
Pembudidayaan bulu babi (T. gratilla L.) berorientasi pada kegiatan untuk memelihara benih bulu babi sampai mencapai ukuran konsumsi.  Untuk mencapai pembesaran sampai ukuran konsumsi, maka diperlukan pengetahuan tentang metode pemeliharaan, dan dosis pakan-pakan yang sesuai dan pola adaptasi bulu babi terhadap lingkungan karamba tancap.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas, maka secara kongkrit tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini meliputi:
1.      Untuk mengetahui pertumbuhan bulu babi dengan menggunakan metode karamba tancap.
2.      Untuk mengetahui  pengaruh padat penebaran dan bobot tubuh bulu babi yang berbeda dengan pemberian bobot lamun 30%  pada tiap petakan  karamba tancap terhadap pertumbuhan  bulu babi.


II.  METODE PENDEKATAN

A.  Peubah Yang Diukur
1.      Pertumbuhan mutlak
- Pertumbuhan mutlak berdasarkan bobot tubuh (Wm) (Effendi,1979):
Wm = Wt - Wo
Dimana: Wm  = Bobot tubuh mutlak individu (g)
Wt    = Bobot individu pada waktu t (g)
Wo    = Bobot tubuh individu pada waktu awal penelitian.
-   Laju Pertumbuhan harian berdasarkan bobot tubuh (LPH) (Aslan, 2005):
               LPH =
*   Dimana:           LPH = Bobot tubuh harian individu (g)
                              Wt    = Bobot tubuh individu pada waktu t (g)
                               Wo   = Bobot tubuh individu pada waktu awal penelitian (g)
                               T      = Total waktu pengamatan (hari)
2.      Laju Pertumbuhan Spesifik (SGR) berdasarkan bobot tubuh menggunakan rumus Partridge and Jenkins (2002) dalam Yenni (2003):
SGR =
Dimana:           SGR = Laju pertumbuhan spesifik (%)
                        Wt    = Bobot rata-rata individu pada waktu t (g)
                        Wo   = Bobot rata-rata individu pada awal penelitian
3. Efisiensi Pemberian Pakan (FCE) digunakan rumus yang dikemukakan oleh Stickney (1994) dalam Sabilu (2000)
     
      Dimana : FCE  = Jumlah pemberian pakan
FCR = Rasio konversi pakan

4.   Tingkat Kelangsungan Hidup
     
Dimana : SR      = Tingkat kelangsungan hidup (%)
Nt  = Jumlah individu akhir penelitian (ekor)
No = Jumlah individu awal penelitian (ekor)
Sebagai data penunjang, dilakukan pengukuran parameter kualitas air.























III.  PELAKSANAAN KEGIATAN

A.  Waktu dan Tempat
Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan atau 90 hari kerja yaitu bulan Maret sampai bulan Juni 2007.  Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Kabupaten Konawe Selatan Propinsi Sulawesi Tenggara.
B.  Tahapan Pelaksanaan
            Tahapan kegiatan ini dapat dilihat pada gambar berikut :










Flowchart: Predefined Process:       Pemeliharaan :
-	Pemberian Pakan
-	Pembersihan keramba



 






































Gambar 2.  Bagan Rangkaian Kegiatan Pembudidayaan Bulu Babi  (Tripneustes
gratilla L) pada karamba jaring tancap.

1.      Pembuatan keramba jaring tancap

            Secara teknis wadah yang digunakan dalam penelitian ini adalah keramba jaring dasar yang terbuat dari jaring nilon dengan ukuran mata jaring 1,5 mm  sebanyak 1 unit yang  dibagi  menjadi  12  petak. Tiap  petakan  masing-masing  berukuran 1 m x 1 m x 1 m dan dibersihkan setiap 2 minggu sekali. Tiap petakan ditempatkan pada dasar perairan yang bersubtrat sama yaitu substrat lempung berpasir.

2.  Seleksi Benih

            Bulu babi yang telah menjadi hewan uji diperoleh dari lokasi Perairan Pantai Roda Desa Ato-wato. Bulu babi yang ditangkap berukuran 10-40 g/individu, kemudian ditampung dalam keramba penampungan untuk dilakukan sebagai hewan uji. Menjelang pelakasanaan penelitian, setiap individu bulu babi ditimbang bobot tubuhnya, selanjutnya ditempatkan dalam keramba yang telah disiapkan berdasarkan perlakuan dan kelompok dengan padat penebaran yang berbeda setiap wadah. Pengamatan terhadap hewan uji dilaksanakan setiap 2 minggu sekali selama 3 bulan (6 kali pengamatan).
3.   Pemeliharaan

            Pemeliharaan bulu babi jenis Tripneustes gratilla L. Terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut :
a.  Pemberian pakan
   Pakan yang diberikan adalah lamun jenis Thalassia hemprichii sebagai sumber pertumbuhan bulu babi selama pemeliharaan juga belum pernah dilakukan padahal lamun merupakan pakan utama T. gratilla (Aslan, dkk., 2003).  Pemberian pakan dilakukan pada saat air surut dan diberikan setiap dua hari sekali dengan dosis pemberian pakan 30% dari bobot tubuh. Pemberian pakan dilakukan seminggu dua pada saat air surut sehingga proses pemberian pakan bisa lebih efektif dapat dimanfaat sepenuhnya oleh bulu babi tersebut.
b.  Pembersihan keramba
            Pembersihan keramba perlu dilakukan untuk pembersihan kotoran yang tersangkut akibat adanya aliran arus atau sisa-sisa pakan yang tidak dimanfaatkan oleh bulu babi serta sedimen yang mengendap pada jaring keramba. Sehingga tidak mengganggu pertumbuhan bulu babi yang diteliti.
c.  Kualitas air
     Dalam proses pembudidayaan bulu babi perlu diperhatikan parameter kualitas air yang terdiri dari salinitas, suhu, pH dan kedalaman, dimana parameter kualitas ir diukur setiap 15 hari sekali. Aslan  (2005) menyatakan bahwa suhu perairan pada saat pengamatan berkisar antara 280C – 320C merupakan suhu yang baik bagi pertumbuhan bulu babi. pH airnya berkisar 6,5-8,5. salinitasnya berkisar antara 32 - 33 o/oo yang memungkinkan bulu babi bisa tumbuh dan berkembang.
4.  Panen
            Pemanenan dilakukan pada saat air surut sehingga terlihat bulu babi berada didasar keramba, kemudian menangkapnya. Setelah itu dilakukan penimbangan dengan menggunakan timbangan duduk untuk mengetahui bobot tubuh bulu babi yang sudah dibudidayakan.

C.  Instrumen Pelaksanaan
            Alat-alat yang dipergunakan selama dalam pelaksanaan kegiatan adalah :
Tabel 1. Alat dan bahan serta Kegunaan yang Digunakan Selama Penelitian
No      Nama                                       Satuan            Kegunaan
1.       Alat:                                                       
          Thermometer                              oC           Mengukur suhu
          Hand Refraktometer                    ppt         Mengukur salinitas
          Timbangan Ohause                      g            Mengukur bobot tubuh
          Patok Skala                                   -            Mengukur kedalaman
          Sechi disk                                     m           Mengukur kecerahan
          Kertas pH                                      -            Mengukur pH air
Stop watch, botol Aqua              m/dt        Mengukur kecepatan arus
dan tali rafia
2.       Bahan:
          Bulu babi                                       -           Sebagai hewan uji



IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Pertumbuhan Mutlak
Nilai pertumbuhan mutlak bobot tubuh bulu babi (Tripneustes gratilla L) dapat dilihat pada tabel 2 berikut :
Tabel 2. Nilai Pertumbuhan Mutlak Bobot Bulu babi (Tripneustes gratilla L)
Rata-rata Bobot Awal (gram)
Rata-rata Bobot Akhir (gram)
Rata-rata Pertumbuhan Mutlak (gram)
24,55

46,66

22,11


Dari data pada tabel 2 tersebut diatas nampak bobot bulu babi selama penelitian  selama penelitian kurang lebih 90 hari mengalami peningkatan berat sebesar 22,11 gram.
Selama penelitian bulu babi diberi pakan alami berupa lmun jenis Thalassia hemphricci sebanyak 30% dari bobot tubuhnya yang diberikan setiap dua hari sekali yaitu pada waktu sore hari (pukul 16.00-17.00 Wita), hal ini dilakukan karena mengacu pada sifat dari bulu babi yang nokturnal atau aktif mencari makan pada malam hari.
Pemberian pakan alami berupa lamun jenis Thalassia hemphricci karena bulu babi cenderung menyukai lamun jenis ini karena dapat memberikan pertumbuhan yang lebih besar jika dibandingkan jenis lamun lain.  Hal ini sesuai dengan pendapat Aslan, dkk., (2003) yang menyatakan bahwa Pakan yang diberikan adalah lamun jenis Thalassia hemprichii sebagai sumber pertumbuhan bulu babi selama pemeliharaan juga belum pernah dilakukan padahal lamun merupakan pakan utama T. Gratilla.
Dengan menggunakan metode kerambah tancap hasil panen memiliki ukuran yang relatif bervariasi, hal  ini disebabkan karena jumlah pakan yang diberikan yang relatif sama dengan kepadatan yang berbeda-beda sehingga terjadi kompetisi diantara bulu babi yang ada dalam kerambah tersebut.
B.     Pertumbuhan Spesifik(SGR)
Nilai tingkat kelangsungan hidup bulu babi (Tirpneustes gratilla L) selama penelitian dapat dilihat pada tabel 3 berikut :
Tabel 3. Nilai Pertumbuhan spesifik bobot bulu babi T. Gratilla L
Rata-rata Bobot Awal (gram)
Rata-rata Bobot Akhir (gram)
Rata-rata Pertumbuhan Spesifik (gram)
24,55

46,66

0,246


            Berdasarkan data diatas diketahui bahwa laju pertumbuhan spesifik bulu babi berdasarkan bobot tubuh selama 90 hari pengamatan adalah sebesar 0,246 gram
            Rendahnya laju pertumbuhan spesifik yang diperoleh disebabkan karena disebabkan karena pada pemberian pakan saat air surut kondisi keramba masih tergenang oleh air sehingga pakan alami yang diberikan kurang efektif dimanfaatkan oleh bulu babi tersebut. Pakan alami yang diberikan cenderung terapung diatas permukaan air.






C.    Tingkat kelangsungan hidup (SR)
Nilai tingkat kelangsungan hidup Bulu babi (Tripneustes gratilla L) selama penelitian dapat dilihat pada tabel 3 berikut :
Jumlah Hewan Uji Awal Penelitian (No) (ekor)
Jumlah Hewan Uji Akhir Penelitian (Nt) (ekor)
Kelangsungan Hidup (%)
150
120
80

Dari data teresebut terlihat jelas bahwa tingkat kelangsungan hidup  bulu babi sebesar 80%, dimana total bulu babi yang dipelihara sebanyak 150 ekor pada awal penelitian dan tersisa 120 ekor pada saat dilakukan pemanenan
Berdasarkan hasil tersebut maka dapat dikatakan bahwa pemeliharaan denganmenggunakan metode keramba tancap memiliki keuntungan yang lebih baik dan didukung dengan adanya pengontrolan yang dilakukan tiap seminggu dua kali untuk memperhatikan keadaan, kebersihan kerambah maupun pertumbuhan dari bulu babi tersebut.
D.    Parameter kualitas air
1.      Suhu
Suhu suatu perairan dapat mempengaruhi proses metabolisme dan siklus reproduksi organisme bulu babi. Proses metabolisme yang didukung oleh suhu yang sesuai dengan bulu babi membantu dan mempercepat proses metabolisme tubuh bulu babi sehingga dapat menjaga konstannya pertumbuhan.
Suhu perairan pada saat pengamatan berkisar antara 280C – 320C merupakan suhu yang baik bagi pertumbuhan bulu babi. Aslan  (2005) menyatakan bahwa suhu dapat membatasi sebaran hewan bentik secara geografis dan suhu yang baik bagi pertumbuhan hewan bentik adalah 25 – 330C.

2.      Salinitas
            Salinitas juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan bulu babi. Pada saat melakukan pengamatan salinitasnya berkisara antara 32 - 33 o/oo yang memungkinkan bulu babi bisa tumbuh dan berkembang. Aslan (2005) menyatakan bahwa bulu babi tergolong stenohalin, hal ini menyebabkan bulu babi sangat sensitif terhadap perubahan salinitas. Salinitas yang ideal adalah 29 – 33o/oo.
Kinne (1978) dalam Amirullah (1998) menyatakan bahwa salinitas merupakan  jumlah garam-garam yang larut dalam air. Salinitas dan temperatur air dapat mempengaruhi kelarutan oksigen dalam air. Pada perairan pantai salinitas biasanya lebih bervariasi bila dibandingkan perairan terbuka atau laut dalam (Nybakken, 1992).
3.      Derajat Keasaman (pH)
     Boyd (1982) menyatakan bahwa parameter pH menunjukan ukuran konsentrasi ion hidrogen dan tingkat keasaman di suatu perairan. Perairan laut memiliki pH yang relatif konstan. Perubahan nilai pH air laut sedikit saja dari nilai-nilai alami menunjukan bahwa sistem penyangga perairan tersebut terganggu. Sebab air laut sebenarnya memiliki kemampuan mencegah perubahan pH yang tinggi.
pH pada saat melakukan pengamatan berkisar antara 8,1 – 8,5 merupakan pH yang baik bagi pertumbuhan bulu babi. Aslan (2005) menyatakan bahwa perairan yang ideal bagi bulu babi adalah yang pH airnya berkisar 6,5-8,5.
4.      Kecepatan arus
Kimball (1991), menjelaskan bahwa arus laut dapat mempengaruhi ketersediaan bahan makanan yang membawa detritus dan larva hewan (plankton) yang dibutuhkan oleh bulu babi. Untuk mempertahankan diri dari pengaruh gerakan air bulu babi memiliki spine atau kaki tabung dengan tujuan untuk mempertahankan diri atau bergerak secara perlahan-lahan ke tempat yang dianggap aman.
Arus mempunyai peranan penting dalam daur hidup bulu babi. Larva Pluterus dari bulu babi yang hidupnya bebas sebagai plankton akan menempel bila menemukan substrat keras seperti karang mati, cangkang keong atau batu, kemudian mengalami metamorfosa menjadi bulu babi kecil (Soegiarto, 1995).
Kecepatan arus pada pengamatan di lokasi budidaya yaitu berkisar antara 24 – 36 cm/det. Ini menunjukan bahwa lokasi pembudidayaan bulu babi mempunyai kecepatan arus yang sangat baik untuk pertumbuhannya .
5.      Kecerahan
Kemampuan cahaya matahari untuk menembus sampai ke dasar perairan dipengaruhi oleh air.  Yang mempengaruhi kekeruhan ialah benda-benda halus yang disuspensikan (seperti lumpur dan sebagainya), jasad-jasad renik yang merupakan plankton.  Kecerahan yang rendah akan mengurangi penetrasi cahaya yang masuk ke perairan sehingga membatasi proses fotosintesis (Soeseno, 1974 dalam Asmawi, 1983).
            Kecerahan pada saat melakukan pengamatan di lokasi budidaya menunjukan kecerahan yang baik. Hal ini dikarenakan kedalaman perairan dangkal berkisar 0,5 – 2 m, dimana pada saat air laut surut masih maupun pasang tertinggi dasar perairan masih tampak dengan jelas sehingga dapat dikatakan bahwa kecerahan perairan pada lokasi budidaya mencapai 100 %.


V.  KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan
            Dari hasil pembahasan tersebut maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
-          Pertumbuhan bulu babi dengan menggunakan metode kerambah jaring tancap relatih bervariasi pada tiap masing-masing plot yang ditentukan.
-          Pemberian pakan alami Thalassia hemprhicci sebesar 30% dari bobot tubuh tidak terlalu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan bobot bulu babi.
-          Rata-rata pertumbuhan mutlak bulu babi T. Gratilla L selama penelitian adalah sebesar 22,11 gram
A.    Saran

Perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut mengenai pengaruh pemberian pakan alami Thalassia hemphricci terhadap pertumbuhan bobot tubuh bulu  babi sehingga dapat diketahui secara pasti pengaruh pakan alami tersebut terhadap pertumbuhan bobot tubuh bulu babi khususnya dari jenis Tripneustes gratilla L.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar