ads ads ads ads

Senin, 20 Agustus 2012

KUKURE BULU BABI Diadema S























ANALISIS POPULASI IKAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Pada umum ntuk mengetahui kecepatan reproduksi, pertumbuhan dan mortalitas dikategorikan dalam dinamika populasi, di mana untuk mengetahui dinamika populasi tersebut maka harus detajui sejarahnya terlebih dahulu. Parameter populasi tersebut meliputi aspek-aspek serta hubungannya dengan yang lainnya. Dari konsep dasar populasi dan stok sering beriringan dan tercampur aduk, hal ini disebabkan karena analisisnya sama.
Dalam penentuan analisis populasi khususnya populasi ikan digunakan beberapa kategori-kategori sesperti stok, varietas, dan strain. Adapun sifat-sifat yang mengikuti aspek populasi tersebt yakni ; a) populasi-populasi yang terpisah secara geografi dengan lainnya mempunyai kesempatan walaupun sedikit untuk saling tukar genetis.b) Dari populasi yang berkelompok yang dinamakan clines terdapat satu sei perubahan yang gradual. c) Populasi yang berkelompok harus dengan perbedaan yang tajam dengan daerah hidridasi diantaranya.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka untuk mengetahi lebih lanjut tentang analisis populasi maka akan dibahas dalam makalah ini yakni tentang Analisis Populasi Ikan .
B. Tujuan dan Manfaat
      Adapun tujuan makalah ini yaitu sebagai berikut :
a.    Untuk mengetahui pengertian analisis populasi khususnya popupasi
b.    Untuk mengetahui cara dan metode analisis populasi ikan
Sedangkan manfaat dari makalah ini yakni
a.     Sebagai bahan informasi tentang analisis populasi ikan.
b.    Dapat menjadi bahan pertimbangan bagi makalah selanjutnya yang berkaitan dengan populasi ikan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.     Pengertian Analisis Polulasi
Analisis populasi ikan merupakan suatu kajian tentang perkembangan populai ikan. Analisis ini diperlukan karena besar poplasi ikan dari waktu ke waktu selalu berubah. Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan dan meramalkan perkembangan suatu populasi ikan.

B.    Populasi dalam ekosistem
Penggolongan ekosistem dapat dilakukan dengan berbadai alasan, misalnya atas dasar unit biologinya atau unit fisikanya. Di dalam ekosistem tersebut hidup berbagai populasi yang saling berinteraksi dengan lingkungannya. Sebagai contoh adalah sebagai berikut :
1.    Berdasarkan unit biologi: ekosistem tundra dan hutan hujan
2.    Berdasarkan elemen fisik: danau oligotropic
3.    Berdasarkan minat sumberdaya alam: tuna ground, oyster bed

C.    Parameter Populasi
Populasi selalu tersusun atas beberapa individu sejenis. Oleh karena itu, parameter yang diukur saat dilakukan kajian/studi juga ada perbedaan.
1.    Parameter individu. Parameter yang terukur dari individu adalah pada level individu atau satu organisme. Parameter tersebut meliputi: ukuran tubuh, morfologi, pertumbuhan (dalam rasio panjang/berat), kelahiran, dan kematian.
2.    Parameter populasi. Parameter yang terukur adalah pada level populasi. Parameter ini meliputi: kepadatan, pola distribusi, struktur umur, pertumbuhan (dalam satuan jumlah per biomass), kecepatan kematian, dan kecepatan kelahiran.
Antara kedua kelompok parameter tersebut ada perbedaan. Misalnya dalam hal pengukuran pertumbuhan. Pada parameter individu yang dimaksud pertumbuhan adalah pertumbuhan satu individu, misalnya pada berat dan panjang dlam satu kurun waktu tertentu. Akan tetapi, dalam parameter populasi, yang dimaksud pertumbuhan adalah perubahan jumlah indiidu dalam suatu populasi.

D.  Kepadatan
Istilah densitas dan kemelimpahan seringkali pengertiannya dianggap sama. Walaupun demikian sebenarnya kedua istilah tersebut pengertiannya berbeda.
1.    Kepadatan (density) diartikan sebagai jumlah individu dalam suatu populasi per satuan luas area. Kepadatan ini dibedakan menjadi 2 hal, yaitu sebagai berikut.
2.    Kepadatan mutlak: diperoleh dengan cara menghitung jumlah makhluk hidup per unit luas area. Kepadatan mutlak ini yang biasa disebut dengan istilah density.
3.    Kepadatan nisbi/relatif: diperoleh dengan cara membandingkan kepadatan mutlak suatu tempat dengan kepadatan mutlak di tempat yang lain. Kepadatan nisbi inilah yang biasa disebut dengan istilah abundance atau kemelimpahan.
Besar kecilnya kepadatan dapat berubah-ubah seiring dengan waktu. Hal hal yang dapat mempengaruhi kepadatan terutama adalah kelahiran, kematian, imigrasi, dan emigrasi. Kelahiran (yang dapat menambah jumlah) dipengaruhi oleh kemampuan reproduksi. Kematian (yang dapat mengurangi jumlah) lebih banyak disebabkan oleh faktor lingkungannya. Imigrasi dan emigrasi, karena pengaruhnya sering tidak signifikan maka faktor ini sering diabaikan.


E. Pola Distribusi
Sebaran ikan secara umum memiliki pola-pola tertentu. Pola ini dapat terjadi karena pengaruh faktor lingkungan serta sifat sifat yang dimiliki oleh ikan tersebut. Ada beberapa pola, antara lain sebagai berikut :
1.    Pola distribusi vektorial: pola ini terbentuk sebagai jawaban atas pengaruh faktor lingkungan fisik dan kimia.
2.    Pola distribusi reproduktif: pola ini terbentuk karena terkait dengan reproduksi
3.    Pola distribusi acak: Pola ini terbentuk karena adanya pengaruh dari ”kesempatan” dalam suatu lingkungan yang seragam.
4.    Pola distribusi contagious: pola ini berupa adanya kelompok individu yang berada di suatu tempat, tetapi tidak ditemui di daerah sekitarnya yang lain yang berbedakatan. Akan tetapi populasi ini dapat ditemukan di tempat lain yang juga hidup secara berkelompok.
5.    Pola overdispersion: pola distribusi yang acak yang jarang jarang yang hidup dalam suatu ruang/tempat yang seragam. Jadi, ada semacam pembagian ruang hidup di tempat tersebut.
6.    Pola distribusi co-active: pola ini terbentuk karena adanya akibat dari interaksi dengan hewan lain berupa kompetisi.

F.  Struktur Umur
Natalitas dan mortalitas yang terjadi dalam suatu populasi akan menghasilkan suatu set umur tertentu yang jumlahnya tidak sama. Suatu struktur dalam populasi yang terdapat pengelompokan berdasarkan umur. Jadi, sekumpulan cohort dalam sebuah populasi. Lazimnya, dalam kondisi normal cohort dengan umur muda lebih banyak jumlahnya daripada cohort dengan umur yang lebih tua. Hal tersebut karena terkait dengan faktor mortalitas masing masing cohort. Hal tersebut karena untuk dapat bertahan hidup, ikan harus melwati banyak hambatan untuk hidup, misalnya predator dan pengaruh lingkungan. Apalagi pada masa awal kehidupannya merupakan fase paling kritis dari siklus hidupnya.

G. Pertumbuhan Populasi
Pertumbuhan populasi adalah perubahan jumlah individu dalam sebuah populasi. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan. Faktor pendukung pertambahan populasi, antara lain natalitas yang lebih besar daripada mortalitasnya. Faktor yang dapat menghambat pertumbuhan populasi antara lain lingkungan yang tidak sesuai, kompetisi ruang dan jumlah makanan, serta penyakit.

H.  Suplai Makanan Dan Hubungan Pakan-Ikan
Pakan merupakan salah satu komponen yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap besar kecilnya suatu populasi ikan. Beberapa konsep yang berkaitan dengan suplai makanan dan hubungan pakan-ikan, antara lain sebagai berikut :
1.    Konsep Suplai Makanan
Suplai makanan berpengaruh cukup besar terhadap besar populasi ikan. Walaupun hal tersebut tidak sederhana, dan melewati suatu proses jaring-jaring makanan yang kompleks. Suplai makan tersebut dapat mempengaruhi populasi terkait dengan: jumlah, kualitas, dan ketersediaan makanan yang ada. Adanya makanan dalam jumlah yang cukup akan mempengaruhi: pertumbuhan ikan, kematangan gonad, dan kemampuan bertahan hidup dari ikan.
Jumlah dan komposisi makanan akan menentukan jumlah dan komposis spesies dalam satu kelompok ikan. Selain itu, jumlah pakan yang dimakan akan mempengaruhi: fekunditas tahunan, laju pertumbuhan, waktu kedewaaan, dan lamanya hidup.

Suplai makanan dapat berpengaruh terhadap populasi ikan, antara lain terkait oleh hal-hal berikut :
1.    Kebiasaan makan secara individual, yang dalam hal ini dipengaruhi oleh umur dan jenis. Jumlah pakan, kualitas, dan ketersediaan pakan.
2.    Kompetisi terhadap pakan yang sama, walaupun pada spesies yang sama jarang terjadi. Namun kompetisi ini menjadi sangat genting justru pada fase anakan ikan.
3.    Ikan pada level tropik atas memakan jenis makanan yang beragam
4.    Makanan di level tropik bawah lebih sedikit
5.    Spesies euryphagus makan lebih banyak dan memiliki cakupan gegrafis lebih luas daripaka spesies stenophagus.
6.    Organisme stenophagus umumnya berada di daerah tropis
7.    Ikan memiliki perlindungan diri terhadap predator
Ketersediaan pakan dipengaruhi oleh kondisi abiotik perairan. Faktor abiotik tersebut, antara lain sebagai berikut: suhu, transparansi, angin, fluktuasi permukaan air, perubahan perluasan area makan, dan keterlindungan pakan dari predator. Hubungan Makan antara Asosiasi Fauna Tunggal pada Variasi Garis Lintang yang Berbeda.
Dalam perkembangannya ikan selalu beradaptasi dengan lingkungannya termasuk dalam hal makanan dengan tujuan supaya dapat memanfaatkan makanan yang tersedia secara maksimal. Ikan ikan yang saling beraosiasi dalam satu kelompok dalam area tertentu biasanya akan beradaptasi dalam hal makanan, untuk mencegah adanya konflik dengan ikan yang lain, yang memiliki kebutuhan pakan hayati yang sama (pemakan plankton, pemakan benthos, dan predator) karena adanya perbedaan pakan yang dimakan.
Garis lintang bumi ternyata berpengaruh terhadap suplai makanan. Perbedaan ketersediaan makanan di daerah lintang yang berbeda mempengaruhi perilaku makan ikan. Di daerah tropis, ikan biasanya akan mengurangi volume makan saat musim kemarau karena keterbatasan suplai makanan. Bahkan beberapa jenis mengalami hibernasi untuk mengirit emergi.
Ikan ikan di daerah lintang tinggi selalu beradaptasi untuk makan berbagai jenis makanan dalam jumlah yang bervariasi untuk menjaga ketersediaan makanan. Sebaliknya di daerah dengan lintang rendah variasi jenis makanan lebih rendah karena ketersediaan makanan relatif stabil. Pada masa tertentu migrasi diperlukan karena terkait dengan ketersediaan makanan. Keteraturan makan dapat dipengaruhi oleh migrsi ikan, walaupun ada penurunan pemangsaan makanan di sungai.

I.    Hubungan Makan Di Antara Spesies dalam Asosiasi yang Berbeda
Dalam satu kelompok ikan tersusun atas beberapa spesies. Dalam satu kelompok tersebut akan terjadi kompetisi yang sangat tajam (dalam hal makanan) apabila mereka memiliki jenis makanan yang sama. Tidak banyak suatu daerah yang hanya terdiri atas satu kelompok saja. Umumnya dalam satu daerah terdapat beberapa kelompok. Sebagai contoh adalah danau Arktik dan beberapa pegunungan di Asia. Di danau tersebut hanya ada satu kelompok ikan saja. Hal tersebut karena adanya penyesuaian iklim yang akan meperpanjang rantai makanan.
Lokasi atau zona berpengaruh terhadap hubungan makan. Garis lintang bumi memiliki kondisi yang berbeda sehingga wilayah tropis dan sb tropis hubungan makan juga berbeda. Komunitas di daerah lintang tinggi atau daerah sub-tropis lebih menguntungkan saat makanan pokok tidak tersedia. Sebaliknya komunitas di daerah lintang rendah atau tropis lebih menguntungkan apabila makanan pokok tersedia. Di daerah lintang rendah, predator akan lebih mudah mentransfer prey dibandingkan di daerah tintang tinggi. Prey atau mangsa yang berfungsi sebagai makanan pokok predator umumnya mempunyai kesamaan bentuk dengan predator.
Ketersediaan pakan merupakan pembatas biologis, misalnya pertumbuhan dan kemampuan reproduksi. Oleh karena itu, besar populasii juga dipengaruhi oleh ketersediaan pakan. Dalam suatu area ikan ikan yang ada akan saling berinteraksi. Antara satu dengan yang lain ada yang interaksinya tidak menimbulkan masalah namun ada yang dapat menimbulkan masalah apabila terhadap hubungan predator dan prey. Beberapa ikan di daerah sub-tropis atau di daerah dengan lintang tinggi, karena keterbatasan makanan maka ikan ikan tersebut dapat mengalami perubahan secara dratis penjadi predator. Pada sebuah lokasi pemangsaan yang luas, maka pemangsaan akan meningkat jumlahnya apabila lokasi terseut ternyata merupakan rute migrasi pemijahan.

J. Hubungan Makan Di Antara Spesies
Dalam satu populasi, (terutama untuk ikan yang hidup berkelompok) antara satu individu dengan individu yang lain memiliki hubungan yang erat dalam kaitannya dengan masalah makanan. Populasi dapat maksimum apabila pakan yang tersedia juga maksimum dan adanya gangguan dari predator. Ketersediaan pakan dapat maksimum apabila terdapat adaptasi ikan terhadap jenis makanan.
Karena adanya pengarh berbagai faktor, misalnya musim dan kompetisi, ternyata dapat mempengaruhi ketersediaan pakan. Salah satu cara ikan untuk tetap menjaga agar pakan selalu tersedia dalam jumlah yang cukup adalah ikan melakukan pergerakan berpindah tempat atau migrasi. Ikan-ikan tersebut akan bermigrasi sampai di tempat di mana terdapat suplai makanan yang cukup. Perilaku lain yang yang berkaitan dengan hubungan makan di natara spesies adalah kebiasaan bergerombol. Kebiasaan bergerombol ini memiliki beberapa manfaat, antar lain sebagai berikut :


1.    Ikan dapat memulai makan dan berhenti makan pada saat yang sama. Dengan adanya gerombolan yang besar akan mempersulit predator untuk menyerang mangsanya sehingga ikan-ikan yang menjadi prey lebih terlindung.
2.    Kondisi Abiotik Mempengaruhi Suplai Makanan. Variasi kondisi abiotik memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap ”food intake” atau jumalh pakan yang dimakan. Sementara itu, kondisi abiotik ditentukan oleh besar luas zona geografi dan kedalaman, di mana di tempat tersebut terjadi hubungan makanan.
Suplai makanan berkaitan erat dengan panjang periode vegetatif. Periode vegetatif adalah suatu masa di mana populasi dapat menjalankan metabolisme secara maksimal dan membangun jaringan tubuhnya dalam kondisi tersedianya makanan, dalam kondisi yang sesuai. Waktu dan durasi (periode) makan ikan bergantung pada kondisi ketersediaan makan yang terkait dengan kondisi abiotik dan kondisi ikan itu sendiri. Secara seksual, ikan ikan yang belum dewasa memiliki periode yang lebih panjang daripada ikan dewasa. Jumlah pakan yang dimakan oleh ikan bervariasi. Adanya variasi ini dipengaruhi oleh panjang periode makan dan suhu, selama periode makan. Beberapa kondisi lain yang berpengaruh terhadap suplai makanan yang akhirnya juga berpengaruh terhadap jumlah makan yang dimakan oleh ikan, antara lain sebagai berikut. Wilayah geografi secara alami berpengaruh terhadap kecepatan reproduksi makanan. Kecepatan reproduksi inilah yang akan berakibat terhadap banyak pakan yang dimakan.  Angin dapat berpengaruh terhadap suplai makanan. Misalnya, adanya angin besar membuat serangga banyak yang jatuh ke air, dan dapat memperbesar suplai makanan yang tersedia. Cahaya berpengaruh terhadap jumalh pakan yang dimakan. Misalnya, adanya cahaya memudahkan predator untuk meburu mangsanya.
Kondisi perikanan dunia saat ini tidak dapat lagi dikatakan masih berlimpah. Tanpa adanya konsep pengelolaan yang berbasis lingkungan, dikhawatirkan sumber daya yang sangat potensial ini-sebagai sumber protein yang sehat dan murah-bisa terancam kelestariannya. Karena itu, sidang Organisasi Pangan Sedunia (FAO) memperkenalkan Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) sejak 1995. Konsep yang diterjemahkan sebagai Tata Laksana Perikanan yang Bertanggung Jawab (Code of Conduct for Responsible Fisheries) tersebut telah diadopsi oleh hampir seluruh anggota badan dunia sebagai patokan pelaksanaan pengelolaan perikanan. Sekalipun sifatnya sukarela, banyak negara telah sepakat bahwa CCRF merupakan dasar kebijakan pengelolaan perikanan dunia. Dalam pelaksanaannya, FAO telah mengeluarkan petunjuk aturan pelaksanaan dan metode untuk mengembangkan kegiatan perikanan yang mencakup perikanan tangkap dan budidaya. Sejak pertengahan tahun 1990-an, sebagian ahli perikanan dunia memang telah melihat adanya kecenderungan hasil tangkapan perikanan global yang telah mencapai titik puncak. Bahkan di beberapa wilayah dunia, produksi perikanan telah menunjukkan gejala tangkap lebih (overfishing).
Kondisi overfishing di beberapa bagian dunia dapat dibuktikan dengan membuat analisis rantai makanan (trophic level) terhadap ikan-ikan yang tertangkap. Hasil yang ada menunjukkan bahwa aktivitas perikanan oleh manusia menurunkan populasi ikan-ikan jenis predator utama, seperti tuna, marlin, cucut (Myers dan Worm, 2003). Dengan jumlah alat tangkap yang dimiliki armada perikanan dunia saat ini serta dibarengi kemajuan teknologi yang ada, nelayan modern tidak perlu lagi mencari-cari daerah penangkapan terlalu lama seperti yang dilakukan generasi terdahulu, di mana mereka harus berlayar berhari-hari untuk mencapai fishing ground atau daerah penangkapan ikan. Akibat dari berkurangnya populasi ikan pada trophic level tinggi, tingkat eksploitasi terhadap jenis ikan yang berada pada tingkat trophic level yang lebih rendah, seperti ikan-ikan pelagis kecil dan cumi-cumi, akan meningkat. Kecenderungan demikian disebut Fishing Down Marine Food Web, yang pertama kali diperkenalkan Pauly et al, 2002.
Ilustrasi gejala Fishing Down Marine Food Web seperti yang dimaksud. Kecenderungan ini tidak bisa dibiarkan karena pada akhirnya manusia hanya akan bisa menyantap sup ubur-ubur dan plankton.























BAB III
PEMBAHASAN

A.   Analisis Populasi Ikan
Analisis populasi ikan sangat diperlukan dalam mengkaji beberapa sumber perkembangan suatu populasi ikan dan stok ikan yang ada baik pada perairan darat maupun pada perairan laut yang dimana hal tersebut diperlukan karena besar populasi ikan dari waktu ke waktu selalu berubah.
Adapun beberapa contoh analisis populasi ikan yang di lakukan oleh beberapa penelitian yakni sebagai berikut :

1.  Hubungan Panjang-berat
Hasil analisis panjang-berat, tanpa membedakan jenis kelamin dan lokasi penelitian didapatkan bahwa pertumbuhan ikan Serandang adalah isometrik dengan nilai b = 3,15 (b = 3, n = 154, dengan taraf signifikansi 0,05 dan 0,01). Jika analisis hubungan panjang-berat ikan serandang dibedakan berdasarkan lokasi dan waktu pengambilan sampel maka didapat nilai b berkisar 2,9681 - 3,598. Ikan serandang yang tertangkap dilokasi penelitian Sungai Beringin dan Sungai Arisan Belido mempunyai pola pertumbuhan Alometrik (b = 2,9681 dan 2,9886, b<3 dengan taraf signifikansi 0,05 dan 0,01) dan Sungai Gumai pola pertumbuhan bersifat Isometrik dengan nilai b = 3,589, b>3.  Analisis hubungan panjang berat dari suatu populasi ikan mempunyai beberapa kegunaan, yaitu memprediksi berat suatu jenis ikan dari panjang ikan yang berguna untuk mengetahui biomassa populasi ikan tersebut (Smith, 1996), parameter yang digunakan untuk memprediksi hubungan panjang berat suatu populasi ikan dapat dibandingkan dengan populasi ikan di badan air yang lain, parameter pendugaan antara kelompok-kelompok ikan untuk mengidentifikasi keadaan suatu populasi suatu jenis ikan berdasarkan ruang dan waktu (Arteaga et al., 1997).

Analisis panjang-berat yang dihubungkan dengan data kelompok umur dapat digunakan untuk mengetahui komposisi stok, umur saat pertama memijah, siklus kehidupan, kematian pertumbuhan dan produksi (Fafioye, 2005) Selain itu juga untuk membedakan unit-unit taksonomi melihat perubahan pada ikan yaitu metamorfosis petumbuhan, dan memprediksi jumlah ikan yang didaratkan. Dari data panjang-berat yang didapat selama bulan Juni-Desember telah didapat faktor kondisi ikan Serandang (Channa pleurophthalmus) menyebar pada kisaran 0,3245 - 1,9372 dengan rata-rata 1,0997. Faktor kondisi dengan nilai terendah (0,3245) dijumpai pada pasangan data bulan Agustus di stasiun penelitian Arisan Belido dan faktor kondisi tertinggi (1.607) terdapat pada bulan Juli di stasiun penelitian Sungai Beringin. Hasil rata-rata Faktor Kondisi (KTL) dengan nilai 1,0997 dan nilai tertinggi 1,607 berarti ikan badannya kurang pipih. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Lagler, 1961 (dalam Effendie, 1975). Untuk ikan yang badannya agak pipih KTL berkisar antara 2 - 4 dan untuk ikan yang badannya kurang pipih KTL berkisar antara 1 - 3. Faktor kondisi atau indek ponderal adalah perbandingan antara berat ikan dengan pangkat tiga panjangnya merupakan faktor yang menggambarkan kondisi kegemukan ikan      (Effendie, 1975).

2.  Hubungan Fekunditas dengan Panjang Total dan Berat Ikan
Hasil perhitungan hubungan antara fekunditas (F) dengan panjang (L) dan berat tubuh (W), nampak adanya korelasi yang signifikan. Persamaan dari korelasi tersebut adalah F = 78,898L + 3584,1, n = 24 , r = 0,6701 dan F = 10,923 W + 1896, n = 24, r = 0,7149. Dari persamaan tersebut menunjukkan bahwa fekunditas ikan Serandang (Channa plerophthalmus) berkorelasi erat dengan berat ikan dibandingkan dengan panjang ikan. Berat gonad yang diperoleh selama penelitian berkisar 3,7 - 7,1 g dengan rata-rata 5,502 g. Fekunditas telur ikan Serandang berkisar 4290 – 1223 butir dengan rata-rata 7491 butir dengan indeks kematangan gonad berkisar 0,711 - 1,486 dengan rata-rata 1.087. Berdasarkan penelitian tahun 2004 puncak pemijahan ikan Serandang (Channa plerophthalmus) terjadi pada bulan Mei, Juli dan September. Diperkirakan ikan ini adalah jenis ikan yang memijah sepanjang tahun karena pada tiap bulan pengambilan sampel selalu ditemukan ikan dengan tingkat kematangan gonad IV dan ukuran ikan baik panjang total maupun berat yang didapat juga beragam. Pengetahuan tentang fekunditas (kemampuan ikan untuk menghasilkan telur) dari suatu jenis ikan merupakan faktor yang sangat penting untuk mengetahui siklus hidup ikan tersebut. Pendugaan fekunditas dari suatu jenis ikan sangat berguna untuk mengetahui kemampuan bertahan hidup anakan ikan, evaluasi stok ikan, budidaya ikan yang didasarkan pada inkubasi telur. Fekunditas absolut (F) adalah jumlah total telur matang yang terdapat di dalam ovarium utama yang siap memijah dari suatu individu ikan betina (King, 1997).
Hubungan antara panjang-berat ikan dengan fekunditas adalah suatu fungsi alometrik penting dari suatu parameter yang relevan yang berguna dalam berbagai aplikasi yaitu pendugaan fekunditas dari suatu populasi ikan, pendugaan fekunditas rata-rata dari suatu kelompok panjang ikan, membandingkan kapasitas produksi telur antar populasi maupun dalam populasi itu sendiri, memperkirakan kapasitas produksi telur sebagai hasil dari proses pertumbuhan ikan. Jenis makanan juga mempengaruhi fekunditas ikan. Jika makanan berasal dari hewan (ikan bersifat karnivora) maka fekunditasnya akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan ikan yang sumber makanannya berasal dari tumbuhan. Ikan Serandang (Channa pleurophthalmus) bersifat predator dan karnivora. Makanan utamanya adalah ikan yang berukuran lebih kecil dan udang. Dari hasil pengamatan pakan alami isi usus ikan Serandang (Channa pleurophthalmus) hampir 100% berupa hancuran daging ikan dan udang sisanya adalah jenis cacing, sehingga dapat dikatakan bahwa ikan ini adalah karnivora murni. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan antara panjang usus ikan dan panjang total ikan yaitu jika ikan mempunyai ukuran panjang total yang besar maka mempunyai nilai perbandingan yang kecil dan juga sebaliknya            (Kottelat, 1993).

3.  Hubungan Antara Fitoplankton dengan Zooplankton (Kopepoda)
Berdasarkan hasil perata-rataaan dari semua data kelimpahan fitoplankton dan zooplankton dari semua stasiun baik pada saat pasang maupun surut selama penelitian, didapatkan adanya kecenderungan perubahan rata-rata total kelimpahan zooplankton mengikuti perubahan rata-rata total kelimpahan fitoplankton. Rendahnya kelimpahan fitoplankton pada minggu-minggu awal diduga merupakan efek pemangsaan oleh zooplankton yang kelimpahannya relatif tinggi pada minggu-minggu awal dimana juga kemungkinannya besar beberapa saat sebelumnya. Akibat populasi fitoplankton yang rendah maka jumlah makanan yang tersedia bagi zooplankton tidak mendukung untuk peningkatan populasinya sehingga mengalami penurunan beberapa saat kemudian. Menurunnya populasi zooplankton mengurangi tekanan bagi fitoplankton sehingga secara perlahan mengalami kenaikan. Akibat dari kenaikan kelimpahan populasi fitoplankton ini adalah mendorong kembali pertumbuhan zooplankton karena makanannya mulai mengalami kenaikan. Demikan mekanisme pemangsaan yang membentuk dinamika fitoplankton dan zooplankton.
Untuk melihat adanya efek pemangsaan zooplankton terhadap fitoplankton dimana energi yang dikonsumsi pada saat tertentu akan berdampak pada populasi setelah beberapa waktu kemudian, maka dilakukan perhitungan korelasi (Spearman Correlation) antara kelimpahan zooplankaton saat t dengan kelimpahan fitoplankton saat t, t-1, t-2 dan t-3 (fitoplankton saat t, 1 minggu, 2 mingg dan 3 minggu sebelumnya). Hasilnya menunjukkan bahwa nilai R Spearmann tertinggi didapatkan
pada korelasi antara kelimpahan zooplankton saat t dengan kelimpahan fitoplankton 1 minggu sebelumnya (t-1) yaitu 0.4899, kemudian t-2, t dan t-3 dengan nilai R Spearman secara berurut 0.4725, 0.4651, dan 0.2677. Hasil ini menunjukkan bahwa kelimpahan populasi zooplankton pada saat tertentu lebih dipengaruhi dan berkaitan dengan kelimpahan populasi fitoplankton seminggu seblumnya. Dengan nilai R yang kecil dan R2 paling tinggi sebesar 0.24 yang berarti bahwa hanya 24% keragaman kelimpahan zooplankton pada saat t dapat dijelaskan oleh keragaman kelimpahan fitoplankton seminggu sebelumnya, menunjukkan bahwa selain kelimpahan fitoplankton maka ada faktor lain yang pengaruhnya lebih besar dalam mengontrol populasi zooplankton. Faktor-faktor tersebut mungkin saja pemangsa zooplankton dari hewan tingkat tinggi lainnya yang tidak diukur dalam penelitian ini. Berdasarkan perhitungan korelasi antara total kelimpahan fitoplankton dengan setiap genus fitoplankton yang ditemukan, didapatkan ada 17 genus fitoplankton yang signifikan memperlihatkan korelasi (positif maupun negatif) dengan total kelimpahan zooplankton. Berdasarkan Kelas fitoplankton maka genus-genus dari Diatom yang lebih banyak menunjukkan korelasi yang positif dengan zooplankton, diantaranya Chatoceros, Bacteriastrum dan Coscinodiscus. Adanya genus yang memperlihatkan korelasi negatif ada berbagai kemungkinan yaitu genus tersebut merupakan kompetitor bagi genus yang menjadi makanan zooplankton atau jika genus tersebut dimakan oleh zooplankton maka pada saat pengambilan sampel terjadi periode dimana menurunnya populasi genus tersebut akibat pemangsaan yang terjadi beberapa saat sebelumnya. Hal ini sulit dipastikan karena tidak dilakukan analisis lambung zooplankton selama penelitian.




K. Teknik dan Metode Pendugaan Populasi Ikan
Pengkajian polpulasi ikan banyak menggunakan beberapa perhitungan statistik dan matematik untuk memprediksi secara kuantitatif tentang perubahan populasi ikan dan menentukan alternatif pilihan manajemen perikanan.
Teknik pendugaan stok
Pengkajian stok terdiri 4 tahapan:
1.    Pendugaan karakteristik stok (pertumbuhan, mortalitas alam dan karena penangkapan serta potensi reproduksi).
2.    Pendugaan kelimpahan ikan di laut,
3.    Hubungan antara upaya (effort) dan mortalitas penangkapan
4.    Pendugaan produksi untuk jangka pendek dan jangka panjang berupa skenario penangkapan atas dasar kelimpahan dan karakteristik stok masa sekarang.
a.  Metode pendugaan stok
Metode berbasis panjang ikan. Khusus masalah di daerah tropis, adalah kesulitan dalam menentukan umur ikan secara tepat. Metode dengan berbasis panjang ikan dalam penelitian perikanan untuk pendugaan stok semakin dikembangkan dan diperbaharui. FISAT (FAO-ICLARM = Stock Assessment Tool) merupakan perangkat lunak yang dikembangkan dari pakel ELEFAN (Electronic LEngth Frequency ANalysis) dan LFSA (Length-based Fish Stock Assessment) dijadikan paket standar metode yang didasarkan pada panjang. Keluaran dari program FISAT adalah:
1.    Perkiraan parameter pertumbuhan dari ukuran panjang ikan, pertumbuhan tumbuh dan frekuensi panjang.
2.    Perkiraan mortalitas dan parameter yang terkait.
3.    Identifikasi rekruitmen musiman.
4.    Penghitungan rekruitmen dengan menggunakan virtual population analysis (VPA).
5.    Prediksi dari produksi dan biomas per rekrut (Y/R; B/R) dari model Beverton dan Holt (1957) dan Thompson dan Bell (1934) untuk single atau multi spesies.
b.  Metode tak langsung.
Metode tak langsung. Terdapat beberapa pendekatan untuk pendugaan sumber daya perikanan secara tidak langsung. Diantaranya adalah pendugaan produksi ikan dari produksi primer, kelimpahan zooplankton, survei telur dan larva ikan dan pengujian kandungan perut ikan pada tingkat trophic tinggi. Dari uraian tersebut di atas, bisa disimpulkan apa tugas ahli perikanan dalam menjawab beberapa pertanyaan berikut :
1.    Bagaimana keadaan hasil penangkapan sekarang sebagai gambaran potensi hasil penangkapan yang maksimum.
2.    Bagaimana keadaan tingkat penangkapan dan apa yang terjadi bila eksploitasi ditingkatkan.
3.    Berapa armada kapal yang diperlukan untuk operasi penangkapan pada level yang optimal.
4.    Bagaimana pengaruhnya terhadap stok dan hasil tangkapan bila ada perubahan ukuran mata jaring (mesh size), atau pengaruh terhadap ukuran minimum ikan yang tertangkap.










DAFTAR PUSTAKA

Arinardi, O. H., 1989. Zooplankton Di Perairan Sekitar Cilacap (Jawa Tengah) danHubungannya dengan Perikanan. Jurnal Penelitian Perikanan Laut, 53.Jakarta.

Arinardi, O. H., A. B. Sutomo, S. A. Yususf, Trimaningsih, E. Asnaryanti, dan S. H.Riyono., 1997. Kisaran Kelimpahan dan Komposisi Plankton Predominan Di Perairan Kawasan Timur Indonesia. Pusat penelitian dan Pengembangan Oseanologi, LIPI. Jakarta.

Bold, H. C., and M. J. Wynne. 1985. Introduction to The Alagae. 2nd Edition. Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey.

Heyman, U., and A. Lundgren., 1988. Phytoplankton Biomass and Production in Relation to Phosforus, Some Conclusions from Field Studies. Hydrobiologia, 170: 211-227..
Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta.
Nikolskii, G.V. 1980. Theory of Fish Population Dynamics as the Biological Background for Rational Exploitation and Management of Fishery Resources. Bishen SinghMahendra Pal Singh and Otto Koeltz science Publisher. Delhi.
Sutherland, W.J. 1996. Ecological Census Techniques – a hand book. Cambridge University Press. Cabridge.